Pengalaman pertama terkadang meninggalkan kenangan yang paling dalam. Bagi Aina Kalita, pernyataan itu bukan sekadar gurauan, karena MCI Group adalah tempat pertama ia merasakan dunia kerja setelah lulus kuliah pada 2005.
Dua puluh satu tahun kemudian, ia masih ada di sini. Bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena setiap fase selalu memberinya alasan baru untuk bertahan dan bertumbuh.
Perjalanannya dimulai sebagai finance staff di sub-holding dealership sebelum kemudian bergerak ke bidang energi. Setiap perpindahan membawa tantangan yang berbeda, entah sistem yang berganti, cara kerja yang berbeda, hingga skala transaksi yang jauh lebih besar. Karena itulah, satu hal menjadi prinsip yang pasti.
“Meski terburu-buru, harus memastikan hasilnya benar. Ketelitian bukan hal yang bisa dikompromikan,” ungkap perempuan yang biasa dipanggil Nana tersebut.
Saat Perjalanan Dimulai
Salah satu momen paling membekas dalam perjalanan karirnya terjadi ketika pertama kali Nana diminta membuat proyeksi arus kas untuk perusahaan mining. Tugas yang belum pernah ia kerjakan sebelumnya, dengan tenggat waktu yang terbatas.
“Saya stay di kantor sampai jam lima pagi, karena materinya dibutuhkan untuk presentasi di jam 10 esok harinya,” cerita Nana mencoba mengingat masa-masa itu.

Kala itu hasil pekerjaannya memang belum sempurna, namun sudah berhasil menyelesaikan tugas yang sulit merupakan suatu kebanggaan. Terlebih lagi, Nana pun ikut belajar bagaimana kerja tim dan dukungan lingkungan mampu membantunya dalam menyelesaikan sebuah masalah.
Ada masa di mana keinginan untuk berhenti datang dengan cukup kuat. Tapi saat pikiran itu muncul, ada hal-hal yang membuatnya tetap bertahan. Selain itu, kesadaran bahwa setiap beban yang berhasil dilewati membuktikan bahwa ia mampu menanggungnya.
“Kesulitan yang sudah kita lewati membuktikan bahwa kita mampu melewatinya. Bawa yang positif, tinggalkan yang tidak perlu,” ucapnya.
Memimpin dengan Keterbukaan
Sebagai seseorang yang kini memimpin tim, Nana memegang pendekatan yang mungkin terdengar sederhana tapi tidak mudah dijalankan: keterbukaan. Ia mendorong anggota timnya untuk tidak ragu meminta koreksi, untuk mengakui saat hasilnya belum yakin, dan untuk tidak menutup-nutupi kelemahan demi terlihat kompeten.
Ia sendiri melakukannya. Meski sudah dua dekade lebih berkarir dan menduduki posisi manajerial, ia tidak sungkan bertanya kepada atasan yang lebih senior ketika ada hal yang belum ia pahami sepenuhnya.
Nana juga belajar soal batas. Sisi emosionalnya yang kuat kerap mendorongnya untuk turun tangan langsung ketika ada rekan yang kesulitan. Tapi lama-kelamaan ia menyadari bahwa terlalu sering membantu, tanpa memberi ruang bagi orang untuk berjuang sendiri, justru menghambat pertumbuhan mereka. Membimbing, baginya, bukan berarti mengambil alih, melainkan mendampingi sampai orang itu bisa berjalan sendiri.
Keseimbangan yang Layak Dijaga
Keluarga yang pengertian dan tidak banyak menuntut juga menjadi penyeimbang yang nyata untuk Nana. Selama komunikasi tetap terjaga, selama ada kabar bahwa semuanya baik-baik saja, roda kehidupan di rumah dan di kantor bisa berputar dengan beriringan.
“Perempuan sukses adalah yang mau terus belajar dan tidak malu mengakui kelemahannya sendiri. Dari sanalah pertumbuhan dimulai,” ungkapnya.

Untuk perempuan-perempuan muda yang baru memulai, Nana tidak berbicara dengan kalimat yang muluk. Ia berbicara dari pengalaman yang ia jalani sendiri, dengan segala kesulitan dan kemudahannya.
Jangan malas belajar. Jangan malu bertanya. Jangan menyerah sebelum benar-benar mencoba. Dan jangan terlalu sibuk membandingkan perjalananmu dengan orang lain, karena kita tidak pernah tahu sepenuhnya apa yang mereka tanggung di balik apa yang terlihat.
Dua puluh satu tahun. Satu perusahaan. Banyak sistem, banyak industri, banyak malam panjang yang harus dilewati. Namun, Nana masih bertahan, dengan fokus yang menatap ke depan, karena itulah satu-satunya arah yang ia pilih untuk melangkah.



















