MCI kembali melaksanakan kegiatan penyaluran hewan kurban sebagai bentuk rasa syukur sekaligus kepedulian kepada masyarakat sekitar perusahaan, dalam memperingati semangat Hari Raya Iduladha 1447 H.

Kegiatan yang telah menjadi agenda rutin tahunan ini dilaksanakan di wilayah KM 12, Banjarmasin, dengan menyerahkan satu ekor sapi kurban kepada warga yang tinggal di sekitar area perusahaan.

Bagi MCI, kurban bukan sekadar tradisi keagamaan yang dilaksanakan setiap tahun. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan baik antara perusahaan dan masyarakat yang selama ini tumbuh bersama di lingkungan yang sama.

Melalui penyaluran hewan kurban, MCI berharap manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial.

Partisipasi perusahaan dalam kegiatan kurban juga menjadi wujud rasa syukur atas berbagai pencapaian dan kesempatan yang telah diperoleh selama ini. Nilai-nilai keikhlasan dan berbagai yang terkandung dalam Iduladha diharapkan dapat terus menjadi inspirasi dalam menjalankan aktivitas perusahaan maupun kehidupan sehari-hari.

MCI berkomitmen untuk terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan.

Baca juga: BMBBD Salurkan 26 Hewan Kurban pada Iduladha 1447 H

Share to

Pengalaman pertama terkadang meninggalkan kenangan yang paling dalam. Bagi Aina Kalita, pernyataan itu bukan sekadar gurauan, karena MCI Group adalah tempat pertama ia merasakan dunia kerja setelah lulus kuliah pada 2005.

Dua puluh satu tahun kemudian, ia masih ada di sini. Bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena setiap fase selalu memberinya alasan baru untuk bertahan dan bertumbuh.

Perjalanannya dimulai sebagai finance staff di sub-holding dealership sebelum kemudian bergerak ke bidang energi. Setiap perpindahan membawa tantangan yang berbeda, entah sistem yang berganti, cara kerja yang berbeda, hingga skala transaksi yang jauh lebih besar. Karena itulah, satu hal menjadi prinsip yang pasti.

“Meski terburu-buru, harus memastikan hasilnya benar. Ketelitian bukan hal yang bisa dikompromikan,” ungkap perempuan yang biasa dipanggil Nana tersebut.

Saat Perjalanan Dimulai

Salah satu momen paling membekas dalam perjalanan karirnya terjadi ketika pertama kali Nana diminta membuat proyeksi arus kas untuk perusahaan mining. Tugas yang belum pernah ia kerjakan sebelumnya, dengan tenggat waktu yang terbatas.

“Saya stay di kantor sampai jam lima pagi, karena materinya dibutuhkan untuk presentasi di jam 10 esok harinya,” cerita Nana mencoba mengingat masa-masa itu.

Kala itu hasil pekerjaannya memang belum sempurna, namun sudah berhasil menyelesaikan tugas yang sulit merupakan suatu kebanggaan. Terlebih lagi, Nana pun ikut belajar bagaimana kerja tim dan dukungan lingkungan mampu membantunya dalam menyelesaikan sebuah masalah.

Ada masa di mana keinginan untuk berhenti datang dengan cukup kuat. Tapi saat pikiran itu muncul, ada hal-hal yang membuatnya tetap bertahan. Selain itu, kesadaran bahwa setiap beban yang berhasil dilewati membuktikan bahwa ia mampu menanggungnya.

“Kesulitan yang sudah kita lewati membuktikan bahwa kita mampu melewatinya. Bawa yang positif, tinggalkan yang tidak perlu,” ucapnya.

Memimpin dengan Keterbukaan

Sebagai seseorang yang kini memimpin tim, Nana memegang pendekatan yang mungkin terdengar sederhana tapi tidak mudah dijalankan: keterbukaan. Ia mendorong anggota timnya untuk tidak ragu meminta koreksi, untuk mengakui saat hasilnya belum yakin, dan untuk tidak menutup-nutupi kelemahan demi terlihat kompeten.

Ia sendiri melakukannya. Meski sudah dua dekade lebih berkarir dan menduduki posisi manajerial, ia tidak sungkan bertanya kepada atasan yang lebih senior ketika ada hal yang belum ia pahami sepenuhnya.

Nana juga belajar soal batas. Sisi emosionalnya yang kuat kerap mendorongnya untuk turun tangan langsung ketika ada rekan yang kesulitan. Tapi lama-kelamaan ia menyadari bahwa terlalu sering membantu, tanpa memberi ruang bagi orang untuk berjuang sendiri, justru menghambat pertumbuhan mereka. Membimbing, baginya, bukan berarti mengambil alih, melainkan mendampingi sampai orang itu bisa berjalan sendiri.

Keseimbangan yang Layak Dijaga

Keluarga yang pengertian dan tidak banyak menuntut juga menjadi penyeimbang yang nyata untuk Nana. Selama komunikasi tetap terjaga, selama ada kabar bahwa semuanya baik-baik saja, roda kehidupan di rumah dan di kantor bisa berputar dengan beriringan.

“Perempuan sukses adalah yang mau terus belajar dan tidak malu mengakui kelemahannya sendiri. Dari sanalah pertumbuhan dimulai,” ungkapnya.

Untuk perempuan-perempuan muda yang baru memulai, Nana tidak berbicara dengan kalimat yang muluk. Ia berbicara dari pengalaman yang ia jalani sendiri, dengan segala kesulitan dan kemudahannya.

Jangan malas belajar. Jangan malu bertanya. Jangan menyerah sebelum benar-benar mencoba. Dan jangan terlalu sibuk membandingkan perjalananmu dengan orang lain, karena kita tidak pernah tahu sepenuhnya apa yang mereka tanggung di balik apa yang terlihat.

Dua puluh satu tahun. Satu perusahaan. Banyak sistem, banyak industri, banyak malam panjang yang harus dilewati. Namun, Nana masih bertahan, dengan fokus yang menatap ke depan, karena itulah satu-satunya arah yang ia pilih untuk melangkah.

Share to

8 Maret 2004 adalah hari pertama Sri Wenda menginjakkan kaki sebagai karyawan di MCI Group. “Saya masih ingat tanggalnya,” ucap wanita itu dengan nada ringan membuka percakapan.

Perempuan yang akrab dipanggil Wenda tersebut, kini menjabat sebagai Manager Account Payable di sub-holding energi (PT CPE), dengan mengelola operasional keuangan yang mencakup lini bisnis mining hingga maritime.

Saat mencoba mengingat perjalanan karirnya, Wenda bercerita bahwa hal itu dimulai dari selembar pengumuman lowongan pekerjaan yang ditempel di kampus.

Wenda baru saja menyelesaikan yudisium ketika melihat pengumuman kebutuhan staf akuntansi dari sebuah perusahaan. Beberapa hari kemudian setelah mengikuti rangkaian proses seleksi, ia pun diterima dan bergabung ke MCI Group.

Karir yang Dibangun dengan Ketekunan

Saat pertama bergabung, dirinya ditempatkan di divisi alat berat PT Cakrawala Putra Bersama (CPB), yang kala itu lokasinya masih berpindah-pindah dari satu ruko ke ruko lain di Banjarmasin.

Pada momen-momen awal ia bergabung, Wenda dipercaya menguji coba program baru untuk menggantikan sistem manual berbasis Excel yang selama ini digunakan. Selama tiga hingga enam bulan, ia menguji, memperbaiki, dan memvalidasi sistem tersebut.

“Sejak awal saya lihat perusahaan ini punya potensi besar. Saya ingin menjadi bagian dari sejarah pertumbuhannya, walau harus mulai dari bawah,” jawabnya ketika ditanya alasan memutuskan bergabung.

Enam tahun bekerja sebagai admin operasional. Lalu pada 2010, ia dipindahkan ke divisi finance, “Saya ada rasa takut,” akunya dengan jujur. Bukan tanpa alasan, dunia finance tentu berbeda dibanding masalah operasional di lapangan, tapi ia menerima tantangan itu.

Setahun kemudian, 2011, datang keputusan yang lebih besar lagi: mutasi ke Jakarta. Wenda pun menjadi salah satu orang pertama dari Banjarmasin yang dikirim menjalankan tugas. Saat tahun 2017, ia kembali ke Banjarmasin saat mulai berkeluarga, dan sejak itu peran gandanya dimulai.

Semuanya ditempuh selangkah demi selangkah. Tidak ada jalan pintas. “Saya nikmati prosesnya,” kata Wenda.

Dua dekade bukan waktu yang sebentar. Dalam rentang itu, Wenda menyaksikan perusahaan melewati berbagai badai. Mulai dari perubahan kepemimpinan, restrukturisasi, dan banyak masa-masa sulit yang membuat banyak rekan seangkatannya memilih hengkang.

“Loyalitas kita benar-benar diuji bukan saat perusahaan ada di posisi atas, melainkan saat kita menghadapi badai,” ucapnya bijak.

Bagi Wenda, bertahan bukan soal tidak punya pilihan lain. Ini soal prinsip. Ia ingin membuktikan bahwa ia tangguh, bisa beradaptasi, bisa melewati perubahan demi perubahan tanpa kehilangan integritas. “Saya berhasil menjaga konsistensi saya. Mungkin itu yang menjadi kebanggaan terbesar saya,” katanya.

Menjadi Ibu di Kantor, dan Ibu di Rumah

Ada pertanyaan yang sering menggelayuti perempuan yang berkarier: bagaimana membagi diri antara pekerjaan dan keluarga?

Wenda tidak punya jawaban yang ajaib. Ia hanya punya cara untuk menjalaninya dengan konsisten. “Selama kita punya pilihan yang bisa menyeimbangkan, Alhamdulillah semua bisa dijalani,” ungkapnya. Kalimat tersebut memang terdengar ringan, tapi di baliknya ada kerja keras bertahun-tahun untuk menjaga dua peran sekaligus.

Ia juga meluruskan satu hal yang sering disalahpahami soal perempuan berkarier, “Kita tidak perlu jadi superwoman. Jangan merasa harus kuat sendiri, karena meminta bantuan itu bukan sebuah kelemahan”.

Sebagai mentor untuk tim, Wenda mengaku cukup tegas. Ia menuntut ketelitian, tidak membiarkan kesalahan berlalu begitu saja. Bukan karena ingin membuat tim tertekan, tapi karena ingin mereka siap dan lebih mandiri, saat seandainya tiba-tiba muncul masalah yang tidak terprediksi.

Tapi ia juga tahu kapan harus melepas posisi “atasan” dan menjadi lebih manusiawi. Ia kerap melakukan pendekatan emosional dan membangun empati dengan staf-nya, memberikan mereka wejangan sebagai sesama perempuan.

“Saya mencoba memposisikan diri sebagai ibu atau kakak untuk rekan-rekan yang lain,” katanya saat menjelaskan hubungan dengan anggota tim.

Di penghujung obrolan, Wenda menitipkan pesan yang ia rasa perlu didengar perempuan-perempuan muda yang baru memulai perjalanan karir mereka.

“Milikilah kompetensi sebagai perisai. Jangan takut memulai dari bawah, karena pondasi yang kuat menentukan perjalanan karir kita ke depan.” Ia melihat pekerjaan bukan cuma soal gaji, tapi tempat bertumbuh dan memberi manfaat.

Dan untuk mereka yang merasa lelah, yang sedang mempertimbangkan untuk menyerah. Wenda punya satu kalimat yang menjadi pegangannya sejak dulu. “Teruslah bermimpi. Jangan pernah berhenti belajar,” ucapnya sebagai pesan pamungkas.

Share to

Saat membicarakan perempuan tangguh, pikiran kita tentu melayang kepada sosok yang kuat, pantang menyerah, serta mampu menghadapi segala kesulitan. Mungkin, itulah yang menggambarkan sifat Rohayana, yang berkat kegigihannya mampu bertahan menemani perjuangan MCI Group hingga kini.

Rohayana bergabung sejak tahun 1995 di Mitra Hino, perusahaan yang kelak menjadi tonggak berdirinya MCI Group. Ia memulai sebagai seorang sales counter, posisi yang saat itu bahkan belum sepenuhnya ia pahami.

Peran yang dijalaninya tidak sesederhana yang terdengar, karena keterbatasan tim membuatnya harus belajar banyak hal sekaligus. Mulai dari menghitung alokasi pemesanan kendaraan setiap bulan, menyusun perjanjian kredit, berkoordinasi dengan perusahaan leasing, hingga mengurus pengapalan unit ke tangan pelanggan.

Meski begitu, ia bukan tipikal yang gampang menyerah. “Aku nggak mau stuck di situ aja. Kalau diserahin tugas yang belum pernah dikerjakan, aku pelajarin sampai bisa,” tuturnya.

Kegigihan untuk belajar itulah yang membawanya berhasil melewati perjalanan yang panjang. Tiga dekade kemudian, ia masih berdiri di tempat yang sama. Namun sebagai pribadi yang jauh lebih matang, dan dengan pengalaman yang tak lagi bisa dihitung sekadar jabatan.

Hati dan Profesionalisme yang Seimbang

Tahun 1996–setahun setelah bergabung–Rohayana menikah. Artinya, hampir seluruh perjalanan karirnya berjalan beriringan dengan perannya sebagai istri, lalu sebagai ibu. Dua peran, satu waktu, satu tubuh.

Jika ada yang bertanya: bagaimana bisa bertahan? Rohayana justru membalik pertanyaan itu. “Bukan soal bisa atau tidak. Tapi mau atau tidak, dan ada dukungan atau tidak.”

Baginya, menjalani dua peran besar tersebut bukan perkara mudah. Ada momen ketika ia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit antara pekerjaan atau keluarga. Ada kalanya juga, rasa bersalah muncul saat ia harus memilih. Namun disitulah ia belajar satu hal penting, bagaimana menentukan prioritas tanpa meninggalkan tanggung jawab.

Ia percaya, kunci dari semua itu adalah keseimbangan yang dibangun bersama. Dukungan dari pasangan, komunikasi yang terbuka, serta saling pengertian dalam rumah tangga menjadi fondasi yang membuatnya mampu terus melangkah.

Salah satu hal yang paling kuat darinya ialah bukan perkara jabatan atau pencapaian karir. Melainkan caranya memaknai pekerjaan.

Rohayana melihat pekerjaan bukan sekadar rutinitas, melainkan sebagai amanah–sesuatu yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, kejujuran, dan ketulusan. Ia juga percaya bahwa setiap kesulitan pasti membawa kemudahan, selama dijalani dengan sabar dan penuh rasa syukur.

Nilai-nilai itu tidak hanya ia pegang sendiri, tetapi juga ia bagikan kepada rekan-rekan kerjanya, terutama generasi yang lebih muda.

Sebagai seseorang yang telah mengabdi lama di perusahaan, ia tidak pelit ilmu dan terbiasa berbagi pengetahuan. Dirinya kerap mengingatkan bahwa pekerjaan bukan beban, melainkan bagian dari proses bertumbuh.

Prinsip yang Memandu Perjalanannya

Selama 30 tahun, Rohayana bukan hanya menjadi saksi perjalanan MCI, tetapi juga bagian dari pertumbuhannya. Dari masa ketika semuanya masih dirintis, hingga kini perusahaan telah berkembang pesat, ia menyimpan rasa bangga yang sederhana namun dalam.

Ia memang tidak menawarkan cerita yang sempurna untuk para perempuan muda hari ini. Namun, ia justru menunjukkan bahwa perjalanan itu penuh tantangan, penuh kompromi, dan sering kali melelahkan.

Ada satu nilai yang terus muncul dalam setiap cerita Rohayana, yaitu syukur. Bukan syukur yang pasif, bukan syukur yang membuat orang diam dan tidak bergerak. Namun “syukur” yang membuat orang sadar di mana ia berdiri, dan memilih untuk melangkah lebih jauh dari sana.

“Di dalam kesulitan itu pasti ada kemudahan. Seberat apapun, kalau terus dijalani, pasti terbiasa. Dan jika sudah terbiasa, akan menjadi mudah,” ucap Rohayana.

Baginya, Kartini telah berhasil membuka banyak pintu untuk perempuan Indonesia. Pintu tersebut merupakan kesempatan, baik untuk berpendidikan, untuk berkarir, untuk punya pilihan. Tapi apa yang terjadi setelah pintu itu terbuka, sepenuhnya ada di tangan kita masing-masing.

“Pintu sudah dibuka oleh Kartini. Tinggal kita yang meneruskan semangatnya. Kalau bukan dari kita sendiri, siapa lagi?”

Tiga puluh tahun bukan target yang ia pasang dari awal. Itu adalah hasil dari pilihan-pilihan kecil yang ia buat setiap harinya. Baik pilihan untuk tidak menyerah, untuk terus belajar, untuk ikhlas, dan untuk bersyukur.

Share to

Menjalani karir lebih dari dua dekade bukanlah waktu yang singkat. Dan bagi Rossalina, itu bukan soal bertahan, melainkan soal terus bergerak, terus belajar, dan terus menemukan hal-hal baru yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Wanita yang akrab dipanggil Rosa ini, memulai karirnya pada Agustus 2003 sebagai finance staff di sub-holding dealership MCI Group. Dari titik awal yang sederhana itu, ia sama sekali tidak membayangkan bahwa dua puluh dua tahun ke depan akan membawanya melintas dari satu industri ke industri lain.

Yang menarik bukan hanya seberapa jauh ia melangkah, tapi bagaimana cara ia menyikapi  setiap langkah itu. Setiap kali harus belajar sistem baru, mengenal tim baru, atau memahami cara kerja industri yang belum pernah ia sentuh sebelumnya, Rossa tidak melihatnya sebagai beban.

Salah satu momen terbesar dalam karirnya datang pada tahun 2011, ketika ia menerima tawaran untuk pindah ke Jakarta saat perusahaan bersiap untuk memperluas bisnis. Keputusan itu bukan hal kecil, karena meninggalkan Banjarmasin–kota yang sudah ia kenal bertahun-tahun–untuk terjun ke ritme Jakarta yang sama sekali berbeda, bukanlah sesuatu yang bisa diambil dengan enteng.

Meski begitu, ia memilih untuk tidak berlama-lama pada ketidaknyamanannya. Ia memilih untuk terus melangkah, menerima bahwa perubahan adalah bagian dari perjalanan, dan bahwa adaptasi adalah keterampilan yang bisa dilatih.

“Belajarlah beradaptasi, tapi bukan dengan mengubah diri, melainkan dengan memahami dunia di sekitar kita,” ucap wanita yang kini berperan sebagai General Manager Finance Department.

Dua Peran, Satu Komitmen

Di luar kantor, ada kehidupan lain yang sama-sama menuntut kehadirannya: menjadi ibu. Rosa menjalani keduanya secara bersamaan, bukan dengan mengorbankan salah satu, melainkan sungguh-sungguh bersamaan.

Ada hari-hari di mana ia mengisi pagi dengan mengerjakan laporan keuangan, kemudian menemani anak mengerjakan tugas sekolah di malam hari. Memang bukan keseimbangan yang sempurna di atas kertas, namun bukti bahwa ia hadir dan menjalankan tanggung jawab bisa dibilang menjadi contoh nyata caranya menjalankan peran.

Kuncinya, kata Rossa, adalah komunikasi. Baik itu dengan keluarga, dengan tim kerja, dan dengan dirinya sendiri.

Keluarga tetap menjadi prioritas utama, namun tanggung jawab pekerjaan didelegasikan dan tetap dipantau dari jauh. Menurutnya, peran suami sebagai partner yang memahami dan hadir di momen-momen paling krusial, menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanannya.

“Tanggung jawab tidak boleh dilepas begitu saja, meski fokus harus dibagi,” ucap wanita yang punya kegemaran membaca buku tersebut.

Kejujuran Sebagai Fondasi

Dalam dunia keuangan yang sehari-harinya bersentuhan langsung dengan uang dan kepercayaan, Rossa memegang satu prinsip yang tidak bisa ia kompromikan, yaitu kejujuran. Baginya, mengakui kesalahan jauh lebih terhormat daripada berusaha menutupinya.

Kepercayaan dibangun bukan dari ketiadaan kesalahan, melainkan dari keberanian untuk jujur ketika kesalahan itu terjadi. Prinsip inilah yang ia bawa sejak hari pertama, dan yang ia jaga hingga sekarang setelah lebih dari dua dekade berkarir.

Jika ditanya soal kesuksesan, Rossa tidak akan menjawab dengan angka atau jabatan. Baginya, tidak ada standar tunggal yang bisa berlaku untuk semua orang. Yang ia yakini adalah, selama ada kebahagiaan dalam menjalaninya–pekerjaan, keluarga, bahkan hal-hal kecil sehari-hari–maka itu sudah cukup.

Dan jika ia bisa kembali berbicara kepada dirinya yang lebih muda, hanya satu hal yang ingin ia sampaikan, “Jadilah lebih berani untuk mengambil semua kesempatan. Hadapi lebih dulu, dan jangan takut untuk belajar.”

Sementara untuk perempuan-perempuan muda yang kini baru memulai langkah pertama mereka dalam karir, pesannya sama hangatnya dengan perjalanan telah ia lalui sendiri. “Pokoknya jangan takut, jangan mudah menyerah, dan jangan berhenti belajar,” ucapnya sebagai pesan penutup.

Share to

Beberapa orang merancang karirnya dengan peta yang jelas, berisi tujuan, tahapan, dan target. Cyntia Laurensiana bukan salah satunya. Ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di MCI Group pada tahun 2001 sebagai finance staff, tidak ada grand plan yang ia genggam. Tidak ada ambisi besar yang ia deklarasikan, yang ada hanyalah satu sikap sederhana yang ternyata membawanya jauh.

“Dari awal memang tidak ada ambisi. Jalanin aja,” ungkap Cyntia dengan tenang.

Namun prinsip “jalanin saja” bukan berarti pasif. Justru dibalik kalimat itu tersimpan sebuah keterbukaan yang luar biasa. Sebuah kesediaan untuk bergerak, berpindah, dan memulai dari awal berkali-kali.

Melangkah dan Terus Belajar

Perjalanan Cyntia membawanya melewati beberapa kota dalam lingkup subholding dealership, mulai dari Banjarmasin, Sampit, hingga Samarinda. Setiap perpindahan adalah babak baru yang menuntutnya untuk kembali mengenal lingkungan, rekan kerja, dan cara kerja yang berbeda.

Berpindah dari satu kota ke kota lain bukan hal yang mudah untuk dijalani. Ada proses adaptasi yang melelahkan, ada ilmu baru yang harus diserap dari nol, ada hari-hari ketika semuanya terasa berat dan keluhan pun tak terhindarkan. Cyntia tidak menyangkalnya.

“Pernah mengeluh dan merasa semuanya berat, tapi harus tetap dijalani. Karena dari situlah pertumbuhan itu datang.”

Tapi justru dari titik-titik berat itulah ia menemukan sesuatu yang tidak akan ia dapatkan jika diam di satu tempat saja. Pemahaman menyeluruh tentang bagaimana sebuah organisasi benar-benar bekerja.

Lintas kota berarti lintas departemen, lintas cara pandang, lintas pendekatan dalam menyelesaikan masalah. Perspektif yang kini ia miliki adalah hasil dari semua perjalanan itu. “Kalau hanya di satu tempat, wawasan yang didapat pasti terbatas. Sekarang saya jadi paham proses operasional secara keseluruhan.”

Hadapi, Bukan Hindari

Tekanan dalam pekerjaan juga menjadi bagian yang tak bisa dihindari, dan di sinilah prinsip Cyntia berbicara dengan tegas, yaitu “Hadapi, bukan Hindari.”

Selain itu, dua nilai yang selalu ia pegang teguh dalam bekerja adalah kebaikan dan kejujuran. Baginya, kejujuran bukan sekadar etika, melainkan fondasi dari segala sesuatu yang bisa dibangun dalam sebuah karir yang panjang dan bermartabat.

Di antara semua yang ia lalui, ada satu hal yang selalu ia kenang dengan rasa syukur, yaitu kesempatan untuk bertemu dan belajar dari orang-orang yang lebih profesional. Para senior yang membimbingnya bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga soal cara menghadapi hidup dengan kepala yang tegak.

Satu hal yang ia yakini sepenuhnya, dan ingin ia sampaikan kepada para perempuan yang baru mulai berkarir, “Tidak ada karir yang langsung dimulai dari puncak. Semuanya berawal dari bawah, dan itu bukan kelemahan. Itu adalah cara kita melalui proses dan benar-benar mengerti apa yang sedang dibangun.”

Kepada semua perempuan yang sedang membangun karir, ia berpesan untuk terus maju dan berkembang, “Jangan rendah diri. Orang lain bisa, kenapa kita tidak?,” ungkapnya dengan tegas.

Cyntia memang tidak memulai karirnya dengan peta rencana. Tapi ia tahu satu hal sejak awal, bahwa selama mau melangkah dan tidak berhenti belajar, jalan itu akan ada.

Share to

Ada yang bilang karakter seseorang dibentuk oleh apa yang mereka lihat sejak kecil. Bagi Supadmi Ning Paririh, melihat sang Ibu menjalani peran sebagai ibu rumah tangga justru memantik api yang berbeda, yaitu keinginan untuk membuktikan bahwa perempuan bisa melangkah sejauh mungkin. Hari ini, ia adalah Manager Human Capital & General Affairs (HCGA) PT. Binuang Mitra Bersama Blok Dua.

Ia mulai bekerja sejak tahun 1998, di masa ketika kondisi ekonomi keluarga mendorongnya untuk segera bekerja setelah menamatkan pendidikan di SLTA. Namun lebih dari sekadar alasan ekonomi, ada tekad yang lebih dalam yang ia bawa: keinginan untuk menjadi perempuan yang berkarir dan mandiri.

“Melihat kondisi orang tua, itu justru membuka perspektif saya, bahwa perempuan bisa mandiri,” ucap wanita yang akrab disapa Padmi itu.

Karir yang Dibangun Lewat Kepercayaan

Karirnya di MCI Group dimulai sejak tahun 2003–lebih dari dua dekade yang lalu–dari posisi paling dasar: staff payroll. Pekerjaan yang teknis, penuh angka, dan menuntut ketelitian. Namun bukan angka yang mengubah arah hidupnya, melainkan sebuah kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Suatu hari, ia diminta untuk melakukan wawancara rekrutmen terhadap calon pekerja. Meski tidak punya latar belakang formal di bidang HR, namun kepercayaan itu ia terima, dan dari sana semuanya berubah.

“Dari sana, saya mulai belajar hal-hal baru terkait HCGA. Saya harus keluar dari zona nyaman, dan itu adalah titik awal saya,” lanjut Padmi.

Satu hal lagi yang membuka pintu besar dalam karirnya, yaitu dukungan manajemen untuk melanjutkan pendidikan. Berawal sebagai lulusan SLTA sederajat, ia  kemudian berhasil menempuh pendidikan tinggi sambil tetap bekerja. Sebuah kesempatan yang ia syukuri dan tidak ia sia-siakan.

Perjalanan tidak selalu mulus. Di era awal karirnya, hampir semua pekerjaan dilakukan secara manual–satu per satu, tanpa sistem digital. Mulai dari mengelola data karyawan, penggajian, hingga administrasi ketenagakerjaan, semuanya bergantung pada ketekunan tangan dan isi kepala. Namun perusahaan terus berinovasi, dan ia memilih untuk tidak tertinggal.

Yang istimewa, meski bekerja di lingkungan yang mayoritas laki-laki, seperti lazimnya industri pertambangan. Ia tidak pernah merasakan tekanan atau perasaan inferior. Lingkungan kerja yang suportif menjadi fondasi yang membuatnya bisa tumbuh. Begitu pula keluarga di rumah yang juga memahami dan mendukung penuh tanggung jawab pekerjaan yang ia emban.

Bagi Supadmi, dua dunia itu bukan beban yang saling bertabrakan, melainkan dua peran yang ia peluk dengan sadar. Ia memegang prinsip bahwa perempuan bisa sekaligus menjadi ibu rumah tangga dan individu yang produktif, berkarya, dan menghasilkan. Bukan memilih salah satu, tapi menjalani keduanya dengan sepenuh hati.

Bekerja dengan Kepedulian dan Empati

Kini, sebagai Manager HCGA, ia mengelola bukan hanya administrasi dan sistem, tetapi juga manusia, dengan segala kompleksitasnya. Bidang HCGA menyentuh siklus hidup karyawan dari awal hingga akhir: dari proses rekrutmen, kelahiran anak karyawan, hingga kedukaan yang harus diurus dengan penuh empati. Dan di sanalah momen-momen paling bermakna dalam karirnya terasa.

“Saat ada karyawan atau keluarga karyawan yang membutuhkan bantuan. Misalnya saat membantu ahli waris dalam hal pengurusan klaim jaminan kematian.  lalu mereka mengucapkan terima kasih–di momen itulah saya merasa bangga. Oh, mungkin inilah mengapa saya bekerja di sini,” ucapnya dengan senyum.

Semangat untuk memberi kesempatan kepada orang lain kini ia teruskan. Ia mendorong stafnya yang masih berpendidikan SLTA untuk melanjutkan kuliah, sebagaimana ia dulu mendapat dorongan yang sama. Karena ia percaya, ilmu adalah bekal yang tidak ternilai, terlebih bagi perempuan.

Jika ada satu pesan yang ia ingin sampaikan kepada dirinya di masa lalu, pesannya singkat namun sarat makna, “Terima kasih sudah menjadi wanita yang hebat dan kuat.”

“Perempuan harus punya mimpi, punya masa depan. Jangan pernah puas, terus belajar, dan jangan pernah bosan untuk bertanya. Dan yang tak kalah penting, jaga diri kalian,“ tuturnya, memberikan wejangan kepada perempuan-perempuan muda yang kini berjalan di industri yang sama.

Share to

Bulan suci Ramadan selalu menjadi waktu yang penuh makna, bukan hanya sebagai momen untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga ukhuwah.

Diselimuti suasana hangat dan penuh keberkahan, keluarga besar MCI kembali dipersatukan melalui kegiatan buka puasa bersama yang dilaksanakan di empat lokasi, yaitu Jakarta, Banjarmasin, Binuang, dan Samarinda.

Kegiatan ini menjadi momen sederhana yang lebih dari sekadar berbagi hidangan berbuka. Namun menjadi tempat untuk saling menyapa, terhubung, dan menikmati waktu bersama dalam suasana yang lebih hangat.

Pelaksanaan kegiatan di masing-masing lokasi berlangsung dengan penuh antusiasme. Inilah cerita-cerita yang disampaikan dari berbagai kota:

Jakarta

Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang tak pernah benar-benar berhenti, keluarga besar MCI Jakarta menemukan jeda yang paling tepat dengan duduk dan menunggu azan Magrib bersama.

Agenda buka puasa bersama di kantor Jakarta diikuti oleh karyawan dari berbagai sub-holding. Diskusi ringan, canda, sampai obrolan santai membuat suasana terasa lebih cair dan membuka ruang untuk saling bercengkerama.

Interaksi hangat yang terjalin antar karyawan pun turut menciptakan suasana yang harmonis di lingkungan kerja.

Banjarmasin

Banjarmasin menyambut Ramadan dengan caranya yang khas, yaitu hangat, ramah, dan selalu terasa seperti pulang ke rumah. Di kota ini, keluarga besar MCI berkumpul dalam suasana yang tak kalah mengalir bebasnya.

Saat azan berkumandang, suasana sejenak hening untuk memanjatkan doa bersama dengan penuh ketulusan. Setelah itu, obrolan ringan mulai mengalir, tentang keseharian, keluarga, maupun hal-hal kecil lain yang jarang dibicarakan.

Kebersamaan yang terjalin terlihat dari banyaknya momen bertukar sapa yang membuat hubungan antar rekan kerja terasa semakin dekat.

Baca juga: Free Medical Check Up untuk Meningkatkan Kesadaran Hidup Sehat

Binuang

Mungkin Binuang bukan kota yang ramai, tapi justru di sinilah kehangatan terasa paling dekat dan paling nyata. Tak ada jarak yang terasa canggung, tak ada formalitas yang berlebihan, dan semua orang duduk bersama untuk berbincang seperti keluarga.

Kegiatan buka bersama di Binuang menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak membutuhkan tempat yang mewah atau acara yang besar. Cukup dengan niat yang tulus, hidangan yang sederhana, dan orang-orang yang saling peduli, maka momen yang biasa akan terasa luar biasa.

Samarinda

Jauh di Kalimantan Timur, semangat Ramadan MCI terasa tak kalah meriahnya. Samarinda menutup rangkaian buka bersama ini dengan penuh kehangatan dan kegembiraan yang tulus.

Keluarga besar MCI Samarinda berkumpul dengan antusias, membawa serta semangat yang sama: bahwa jarak bukan penghalang untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Antusiasme seluruh karyawan membuat acara berjalan khidmat, dengan banyak interaksi yang hangat dan menyenangkan.

Baca juga: Step Up Challenge: Kompetisi untuk Menciptakan Budaya Aktif

One Ramadan, One Family

Melalui momentum Ramadan ini, MCI berharap nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memberikan energi positif bagi seluruh karyawan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, serta menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis di tengah dinamika pekerjaan.

Semoga keberkahan Ramadan terus menyertai langkah kita semua, dan semoga silaturahmi yang telah terjalin semakin erat di hari-hari yang akan datang.

Share to

Ilalang tinggi yang tumbuh subur di lahan basah itu, biasa disebut oleh orang-orang dengan purun. Tanaman yang menyebar di paya-paya atau tempat-tempat yang acap tergenang, dan sering pula berkembang menjadi gulma.

Meski keberadaan purun adalah hama untuk tanaman lain, namun rumput liar tersebut mampu memberi dampak yang sering kali tak disadari.

Melalui tangan para perempuan Tapin, mereka mengubah purun menjadi sesuatu yang lebih bernilai, sekaligus merawat tradisi yang telah ada sejak puluhan generasi.

Warisan Tradisi Lewat Seni

Mempertahankan tradisi bukan hanya soal menjaga keteraturan budaya di tengah hiruk-pikuk modernitas, melainkan juga merawat dan mewariskan identitas.

“Kami sejak kecil sudah diajarkan cara menganyam, bahkan diwajibkan untuk bisa. Karena itulah, pantang bagi masyarakat pesisir kalau tidak punya keahlian ini,” ungkap Salabiah (53) yang tumbuh besar di wilayah Candi Laras Selatan.

Salabiah telah mewarisi keterampilan menganyam purun secara turun temurun dari keluarganya, dan memahami bahwa hal tersebut menjadi salah satu cara menjaga identitas budaya.

Melalui bantuan dan inisiatif MCI, ia pun lalu memotori kelompok kerajinan, “Berkat Mufakat Bersama,” dan membagikan keahlian menganyamnya kepada para perempuan di Desa Shabah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Perempuan yang Berdaya

Bagi para perempuan di Desa Shabah, purun juga menyisakan cerita tentang bagaimana tradisi selalu menemukan caranya untuk bertahan.

Sebelumnya, sebagian dari mereka adalah ibu rumah tangga tanpa penghasilan tetap. Namun berkat ketekunan belajar menganyam, mereka kini mampu menghasilkan produk yang diminati pasar.

Tradisi menganyam, yang tadinya dianggap sekadar kerajinan rumah biasa, kini berubah menjadi peluang usaha yang mampu memperkuat ekonomi keluarga.

Setiap anyaman yang lahir dari tangan para perempuan Tapin, bukanlah produk semata, tetapi bukti bahwa peluang bisa tumbuh dari tempat paling sederhana.

Merawat Identitas Lewat Purun

Karena sesungguhnya, purun bukan hanya tanaman liar, tetapi juga bagian dari nadi masyarakat Kalimantan Selatan.

Purun, atau mensiang yang tumbuh di tepian rawa, telah menjelma menjadi sumber kekuatan baru, yang menghubungkan tradisi, kreativitas, dan kemandirian ekonomi.

Pada akhirnya, ini adalah cerita tentang menjaga tradisi, memberdayakan perempuan, dan bagaimana komunitas kecil mampu menciptakan perubahan yang bermakna.

Dari rawa-rawa basah hingga pasar yang lebih luas, ada pesan sederhana: ketika tradisi dirawat dan diberi ruang untuk berkembang, ia akan selalu menemukan jalannya untuk hidup dan menghidupi.

Share to

Fenomena “mager” atau gaya hidup minim gerak (sedentary lifestyle) sering kali menjadi konsekuensi yang tidak terelakkan dari dinamika kerja di kota besar seperti Jakarta. 

Bekerja di ibu kota terkadang memaksa kita terjebak dalam ritme kerja yang serba cepat namun monoton, di mana waktu habis terbuang dalam perjalanan panjang menuju kantor, hanya untuk kembali duduk di depan layar komputer selama berjam-jam.

Kondisi ini akhirnya memicu work fatigue atau kelelahan ekstrem secara fisik, mental, hingga emosional. Akibat kelelahan yang menumpuk tersebut, seseorang cenderung lebih memilih untuk beristirahat total secara pasif, dibandingkan melakukan aktivitas fisik yang sebenarnya dibutuhkan tubuh.

Berangkat dari keresahan tersebut, sebuah inisiatif kesehatan yang inovatif telah kami lakukan. Alih-alih hanya memberikan imbauan medis yang kaku, MCI memilih pendekatan dengan konsep gamifikasi untuk memecah kejenuhan rutinitas pekerjaan.

Program ini dirancang untuk mengubah persepsi tentang olahraga; dari sebuah kewajiban yang melelahkan, menjadi sebuah kompetisi tim yang penuh strategi dan semangat kolektif. 

Kolektivitas dalam Langkah

Mengusung tema, “Step Up Challenge”, kompetisi ini berjalan selama enam minggu yang dimulai dari 2 Juni hingga 14 Juli 2025.

Antusiasme yang tinggi terlihat dari keikutsertaan peserta yang mencapai lebih dari 100 orang, dengan masing-masing tim terdiri dari lima orang anggota. 

Kompetisi ini memaksa adanya interaksi dan saling dukung antar rekan kerja, agar perjuangan melawan rasa malas tidak lagi menjadi beban personal semata, melainkan sebuah misi kolektif.

Meskipun objektif dari kompetisi ini adalah untuk mengimbau peserta mengumpulkan langkah sebanyak-banyaknya, indikator keberhasilannya terukur secara presisi.

Penilaian tidak hanya dilihat dari langkah siapa yang paling banyak, namun dari health score tertinggi, sebuah metrik yang menggabungkan konsistensi, usaha, dan progres kesehatan setiap orang.

Antara Trotoar Jakarta dan Lintasan Lari

Kompetisi ini membagi partisipan ke dalam dua spektrum aktivitas: Walk dan Run.

  • Kategori Walk: Dibuat untuk mereka yang ingin mengintegrasikan aktivitas fisik ke dalam mobilitas harian. 
  • Kategori Run: Ditujukan bagi para penggiat lari yang ingin menguji batas ketahanan fisik secara lebih intens.

Guna menjaga api kompetisi tetap menyala, penyelenggara menyediakan apresiasi mingguan bagi tim dengan akumulasi langkah terbanyak. 

Hal ini menciptakan dinamika menarik di lingkungan kantor; obrolan tidak lagi hanya soal pekerjaan, melainkan strategi untuk menaikkan posisi di papan peringkat. 

Lebih dari Sekadar Angka di Papan Skor

Setelah peluit akhir ditiupkan dan seluruh langkah telah terhitung, yang tersisa bukan sekadar daftar juara. 

Program ini telah berhasil memotret bahwa dengan stimulus yang tepat, budaya bergerak dapat diintegrasikan ke dalam ritme kerja yang padat.

Meski acara telah resmi berakhir, dampaknya diharapkan menetap menjadi sebuah kebiasaan baru. 

Jakarta mungkin tetap macet dan pekerjaan tetap menumpuk, namun kami ingin bagi karyawan, bergerak kini bukan lagi sebuah pilihan melainkan bagian dari identitas profesional kita.

Share to