Ada yang bilang karakter seseorang dibentuk oleh apa yang mereka lihat sejak kecil. Bagi Supadmi Ning Paririh, melihat sang Ibu menjalani peran sebagai ibu rumah tangga justru memantik api yang berbeda, yaitu keinginan untuk membuktikan bahwa perempuan bisa melangkah sejauh mungkin. Hari ini, ia adalah Manager Human Capital & General Affairs (HCGA) PT. Binuang Mitra Bersama Blok Dua.

Ia mulai bekerja sejak tahun 1998, di masa ketika kondisi ekonomi keluarga mendorongnya untuk segera bekerja setelah menamatkan pendidikan di SLTA. Namun lebih dari sekadar alasan ekonomi, ada tekad yang lebih dalam yang ia bawa: keinginan untuk menjadi perempuan yang berkarir dan mandiri.
“Melihat kondisi orang tua, itu justru membuka perspektif saya, bahwa perempuan bisa mandiri,” ucap wanita yang akrab disapa Padmi itu.
Karir yang Dibangun Lewat Kepercayaan
Karirnya di MCI Group dimulai sejak tahun 2003–lebih dari dua dekade yang lalu–dari posisi paling dasar: staff payroll. Pekerjaan yang teknis, penuh angka, dan menuntut ketelitian. Namun bukan angka yang mengubah arah hidupnya, melainkan sebuah kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Suatu hari, ia diminta untuk melakukan wawancara rekrutmen terhadap calon pekerja. Meski tidak punya latar belakang formal di bidang HR, namun kepercayaan itu ia terima, dan dari sana semuanya berubah.
“Dari sana, saya mulai belajar hal-hal baru terkait HCGA. Saya harus keluar dari zona nyaman, dan itu adalah titik awal saya,” lanjut Padmi.
Satu hal lagi yang membuka pintu besar dalam karirnya, yaitu dukungan manajemen untuk melanjutkan pendidikan. Berawal sebagai lulusan SLTA sederajat, ia kemudian berhasil menempuh pendidikan tinggi sambil tetap bekerja. Sebuah kesempatan yang ia syukuri dan tidak ia sia-siakan.

Perjalanan tidak selalu mulus. Di era awal karirnya, hampir semua pekerjaan dilakukan secara manual–satu per satu, tanpa sistem digital. Mulai dari mengelola data karyawan, penggajian, hingga administrasi ketenagakerjaan, semuanya bergantung pada ketekunan tangan dan isi kepala. Namun perusahaan terus berinovasi, dan ia memilih untuk tidak tertinggal.
Yang istimewa, meski bekerja di lingkungan yang mayoritas laki-laki, seperti lazimnya industri pertambangan. Ia tidak pernah merasakan tekanan atau perasaan inferior. Lingkungan kerja yang suportif menjadi fondasi yang membuatnya bisa tumbuh. Begitu pula keluarga di rumah yang juga memahami dan mendukung penuh tanggung jawab pekerjaan yang ia emban.
Bagi Supadmi, dua dunia itu bukan beban yang saling bertabrakan, melainkan dua peran yang ia peluk dengan sadar. Ia memegang prinsip bahwa perempuan bisa sekaligus menjadi ibu rumah tangga dan individu yang produktif, berkarya, dan menghasilkan. Bukan memilih salah satu, tapi menjalani keduanya dengan sepenuh hati.
Bekerja dengan Kepedulian dan Empati
Kini, sebagai Manager HCGA, ia mengelola bukan hanya administrasi dan sistem, tetapi juga manusia, dengan segala kompleksitasnya. Bidang HCGA menyentuh siklus hidup karyawan dari awal hingga akhir: dari proses rekrutmen, kelahiran anak karyawan, hingga kedukaan yang harus diurus dengan penuh empati. Dan di sanalah momen-momen paling bermakna dalam karirnya terasa.
“Saat ada karyawan atau keluarga karyawan yang membutuhkan bantuan. Misalnya saat membantu ahli waris dalam hal pengurusan klaim jaminan kematian. lalu mereka mengucapkan terima kasih–di momen itulah saya merasa bangga. Oh, mungkin inilah mengapa saya bekerja di sini,” ucapnya dengan senyum.
Semangat untuk memberi kesempatan kepada orang lain kini ia teruskan. Ia mendorong stafnya yang masih berpendidikan SLTA untuk melanjutkan kuliah, sebagaimana ia dulu mendapat dorongan yang sama. Karena ia percaya, ilmu adalah bekal yang tidak ternilai, terlebih bagi perempuan.

Jika ada satu pesan yang ia ingin sampaikan kepada dirinya di masa lalu, pesannya singkat namun sarat makna, “Terima kasih sudah menjadi wanita yang hebat dan kuat.”
“Perempuan harus punya mimpi, punya masa depan. Jangan pernah puas, terus belajar, dan jangan pernah bosan untuk bertanya. Dan yang tak kalah penting, jaga diri kalian,“ tuturnya, memberikan wejangan kepada perempuan-perempuan muda yang kini berjalan di industri yang sama.
