8 Maret 2004 adalah hari pertama Sri Wenda menginjakkan kaki sebagai karyawan di MCI Group. “Saya masih ingat tanggalnya,” ucap wanita itu dengan nada ringan membuka percakapan.
Perempuan yang akrab dipanggil Wenda tersebut, kini menjabat sebagai Manager Account Payable di sub-holding energi (PT CPE), dengan mengelola operasional keuangan yang mencakup lini bisnis mining hingga maritime.
Saat mencoba mengingat perjalanan karirnya, Wenda bercerita bahwa hal itu dimulai dari selembar pengumuman lowongan pekerjaan yang ditempel di kampus.
Wenda baru saja menyelesaikan yudisium ketika melihat pengumuman kebutuhan staf akuntansi dari sebuah perusahaan. Beberapa hari kemudian setelah mengikuti rangkaian proses seleksi, ia pun diterima dan bergabung ke MCI Group.
Karir yang Dibangun dengan Ketekunan
Saat pertama bergabung, dirinya ditempatkan di divisi alat berat PT Cakrawala Putra Bersama (CPB), yang kala itu lokasinya masih berpindah-pindah dari satu ruko ke ruko lain di Banjarmasin.
Pada momen-momen awal ia bergabung, Wenda dipercaya menguji coba program baru untuk menggantikan sistem manual berbasis Excel yang selama ini digunakan. Selama tiga hingga enam bulan, ia menguji, memperbaiki, dan memvalidasi sistem tersebut.
“Sejak awal saya lihat perusahaan ini punya potensi besar. Saya ingin menjadi bagian dari sejarah pertumbuhannya, walau harus mulai dari bawah,” jawabnya ketika ditanya alasan memutuskan bergabung.

Enam tahun bekerja sebagai admin operasional. Lalu pada 2010, ia dipindahkan ke divisi finance, “Saya ada rasa takut,” akunya dengan jujur. Bukan tanpa alasan, dunia finance tentu berbeda dibanding masalah operasional di lapangan, tapi ia menerima tantangan itu.
Setahun kemudian, 2011, datang keputusan yang lebih besar lagi: mutasi ke Jakarta. Wenda pun menjadi salah satu orang pertama dari Banjarmasin yang dikirim menjalankan tugas. Saat tahun 2017, ia kembali ke Banjarmasin saat mulai berkeluarga, dan sejak itu peran gandanya dimulai.
Semuanya ditempuh selangkah demi selangkah. Tidak ada jalan pintas. “Saya nikmati prosesnya,” kata Wenda.
Dua dekade bukan waktu yang sebentar. Dalam rentang itu, Wenda menyaksikan perusahaan melewati berbagai badai. Mulai dari perubahan kepemimpinan, restrukturisasi, dan banyak masa-masa sulit yang membuat banyak rekan seangkatannya memilih hengkang.
“Loyalitas kita benar-benar diuji bukan saat perusahaan ada di posisi atas, melainkan saat kita menghadapi badai,” ucapnya bijak.
Bagi Wenda, bertahan bukan soal tidak punya pilihan lain. Ini soal prinsip. Ia ingin membuktikan bahwa ia tangguh, bisa beradaptasi, bisa melewati perubahan demi perubahan tanpa kehilangan integritas. “Saya berhasil menjaga konsistensi saya. Mungkin itu yang menjadi kebanggaan terbesar saya,” katanya.
Menjadi Ibu di Kantor, dan Ibu di Rumah
Ada pertanyaan yang sering menggelayuti perempuan yang berkarier: bagaimana membagi diri antara pekerjaan dan keluarga?
Wenda tidak punya jawaban yang ajaib. Ia hanya punya cara untuk menjalaninya dengan konsisten. “Selama kita punya pilihan yang bisa menyeimbangkan, Alhamdulillah semua bisa dijalani,” ungkapnya. Kalimat tersebut memang terdengar ringan, tapi di baliknya ada kerja keras bertahun-tahun untuk menjaga dua peran sekaligus.
Ia juga meluruskan satu hal yang sering disalahpahami soal perempuan berkarier, “Kita tidak perlu jadi superwoman. Jangan merasa harus kuat sendiri, karena meminta bantuan itu bukan sebuah kelemahan”.
Sebagai mentor untuk tim, Wenda mengaku cukup tegas. Ia menuntut ketelitian, tidak membiarkan kesalahan berlalu begitu saja. Bukan karena ingin membuat tim tertekan, tapi karena ingin mereka siap dan lebih mandiri, saat seandainya tiba-tiba muncul masalah yang tidak terprediksi.

Tapi ia juga tahu kapan harus melepas posisi “atasan” dan menjadi lebih manusiawi. Ia kerap melakukan pendekatan emosional dan membangun empati dengan staf-nya, memberikan mereka wejangan sebagai sesama perempuan.
“Saya mencoba memposisikan diri sebagai ibu atau kakak untuk rekan-rekan yang lain,” katanya saat menjelaskan hubungan dengan anggota tim.
Di penghujung obrolan, Wenda menitipkan pesan yang ia rasa perlu didengar perempuan-perempuan muda yang baru memulai perjalanan karir mereka.
“Milikilah kompetensi sebagai perisai. Jangan takut memulai dari bawah, karena pondasi yang kuat menentukan perjalanan karir kita ke depan.” Ia melihat pekerjaan bukan cuma soal gaji, tapi tempat bertumbuh dan memberi manfaat.
Dan untuk mereka yang merasa lelah, yang sedang mempertimbangkan untuk menyerah. Wenda punya satu kalimat yang menjadi pegangannya sejak dulu. “Teruslah bermimpi. Jangan pernah berhenti belajar,” ucapnya sebagai pesan pamungkas.
