situs togel|dentoto|toto slot|dentoto login|link dentoto|situs toto
Rohayana: Bertumbuh Bersama Waktu dan Menjalani Amanah - PT Mitra Cakrawala International
Back to news page

27 April 2026

Rohayana: Bertumbuh Bersama Waktu dan Menjalani Amanah

Saat membicarakan perempuan tangguh, pikiran kita tentu melayang kepada sosok yang kuat, pantang menyerah, serta mampu menghadapi segala kesulitan. Mungkin, itulah yang menggambarkan sifat Rohayana, yang berkat kegigihannya mampu bertahan menemani perjuangan MCI Group hingga kini.

Rohayana bergabung sejak tahun 1995 di Mitra Hino, perusahaan yang kelak menjadi tonggak berdirinya MCI Group. Ia memulai sebagai seorang sales counter, posisi yang saat itu bahkan belum sepenuhnya ia pahami.

Peran yang dijalaninya tidak sesederhana yang terdengar, karena keterbatasan tim membuatnya harus belajar banyak hal sekaligus. Mulai dari menghitung alokasi pemesanan kendaraan setiap bulan, menyusun perjanjian kredit, berkoordinasi dengan perusahaan leasing, hingga mengurus pengapalan unit ke tangan pelanggan.

Meski begitu, ia bukan tipikal yang gampang menyerah. “Aku nggak mau stuck di situ aja. Kalau diserahin tugas yang belum pernah dikerjakan, aku pelajarin sampai bisa,” tuturnya.

Kegigihan untuk belajar itulah yang membawanya berhasil melewati perjalanan yang panjang. Tiga dekade kemudian, ia masih berdiri di tempat yang sama. Namun sebagai pribadi yang jauh lebih matang, dan dengan pengalaman yang tak lagi bisa dihitung sekadar jabatan.

Hati dan Profesionalisme yang Seimbang

Tahun 1996–setahun setelah bergabung–Rohayana menikah. Artinya, hampir seluruh perjalanan karirnya berjalan beriringan dengan perannya sebagai istri, lalu sebagai ibu. Dua peran, satu waktu, satu tubuh.

Jika ada yang bertanya: bagaimana bisa bertahan? Rohayana justru membalik pertanyaan itu. “Bukan soal bisa atau tidak. Tapi mau atau tidak, dan ada dukungan atau tidak.”

Baginya, menjalani dua peran besar tersebut bukan perkara mudah. Ada momen ketika ia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit antara pekerjaan atau keluarga. Ada kalanya juga, rasa bersalah muncul saat ia harus memilih. Namun disitulah ia belajar satu hal penting, bagaimana menentukan prioritas tanpa meninggalkan tanggung jawab.

Ia percaya, kunci dari semua itu adalah keseimbangan yang dibangun bersama. Dukungan dari pasangan, komunikasi yang terbuka, serta saling pengertian dalam rumah tangga menjadi fondasi yang membuatnya mampu terus melangkah.

Salah satu hal yang paling kuat darinya ialah bukan perkara jabatan atau pencapaian karir. Melainkan caranya memaknai pekerjaan.

Rohayana melihat pekerjaan bukan sekadar rutinitas, melainkan sebagai amanah–sesuatu yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, kejujuran, dan ketulusan. Ia juga percaya bahwa setiap kesulitan pasti membawa kemudahan, selama dijalani dengan sabar dan penuh rasa syukur.

Nilai-nilai itu tidak hanya ia pegang sendiri, tetapi juga ia bagikan kepada rekan-rekan kerjanya, terutama generasi yang lebih muda.

Sebagai seseorang yang telah mengabdi lama di perusahaan, ia tidak pelit ilmu dan terbiasa berbagi pengetahuan. Dirinya kerap mengingatkan bahwa pekerjaan bukan beban, melainkan bagian dari proses bertumbuh.

Prinsip yang Memandu Perjalanannya

Selama 30 tahun, Rohayana bukan hanya menjadi saksi perjalanan MCI, tetapi juga bagian dari pertumbuhannya. Dari masa ketika semuanya masih dirintis, hingga kini perusahaan telah berkembang pesat, ia menyimpan rasa bangga yang sederhana namun dalam.

Ia memang tidak menawarkan cerita yang sempurna untuk para perempuan muda hari ini. Namun, ia justru menunjukkan bahwa perjalanan itu penuh tantangan, penuh kompromi, dan sering kali melelahkan.

Ada satu nilai yang terus muncul dalam setiap cerita Rohayana, yaitu syukur. Bukan syukur yang pasif, bukan syukur yang membuat orang diam dan tidak bergerak. Namun “syukur” yang membuat orang sadar di mana ia berdiri, dan memilih untuk melangkah lebih jauh dari sana.

“Di dalam kesulitan itu pasti ada kemudahan. Seberat apapun, kalau terus dijalani, pasti terbiasa. Dan jika sudah terbiasa, akan menjadi mudah,” ucap Rohayana.

Baginya, Kartini telah berhasil membuka banyak pintu untuk perempuan Indonesia. Pintu tersebut merupakan kesempatan, baik untuk berpendidikan, untuk berkarir, untuk punya pilihan. Tapi apa yang terjadi setelah pintu itu terbuka, sepenuhnya ada di tangan kita masing-masing.

“Pintu sudah dibuka oleh Kartini. Tinggal kita yang meneruskan semangatnya. Kalau bukan dari kita sendiri, siapa lagi?”

Tiga puluh tahun bukan target yang ia pasang dari awal. Itu adalah hasil dari pilihan-pilihan kecil yang ia buat setiap harinya. Baik pilihan untuk tidak menyerah, untuk terus belajar, untuk ikhlas, dan untuk bersyukur.

Share to