Ilalang tinggi yang tumbuh subur di lahan basah itu, biasa disebut oleh orang-orang dengan purun. Tanaman yang menyebar di paya-paya atau tempat-tempat yang acap tergenang, dan sering pula berkembang menjadi gulma.

Meski keberadaan purun adalah hama untuk tanaman lain, namun rumput liar tersebut mampu memberi dampak yang sering kali tak disadari.
Melalui tangan para perempuan Tapin, mereka mengubah purun menjadi sesuatu yang lebih bernilai, sekaligus merawat tradisi yang telah ada sejak puluhan generasi.
Warisan Tradisi Lewat Seni
Mempertahankan tradisi bukan hanya soal menjaga keteraturan budaya di tengah hiruk-pikuk modernitas, melainkan juga merawat dan mewariskan identitas.
“Kami sejak kecil sudah diajarkan cara menganyam, bahkan diwajibkan untuk bisa. Karena itulah, pantang bagi masyarakat pesisir kalau tidak punya keahlian ini,” ungkap Salabiah (53) yang tumbuh besar di wilayah Candi Laras Selatan.

Salabiah telah mewarisi keterampilan menganyam purun secara turun temurun dari keluarganya, dan memahami bahwa hal tersebut menjadi salah satu cara menjaga identitas budaya.
Melalui bantuan dan inisiatif MCI, ia pun lalu memotori kelompok kerajinan, “Berkat Mufakat Bersama,” dan membagikan keahlian menganyamnya kepada para perempuan di Desa Shabah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
Perempuan yang Berdaya
Bagi para perempuan di Desa Shabah, purun juga menyisakan cerita tentang bagaimana tradisi selalu menemukan caranya untuk bertahan.
Sebelumnya, sebagian dari mereka adalah ibu rumah tangga tanpa penghasilan tetap. Namun berkat ketekunan belajar menganyam, mereka kini mampu menghasilkan produk yang diminati pasar.

Tradisi menganyam, yang tadinya dianggap sekadar kerajinan rumah biasa, kini berubah menjadi peluang usaha yang mampu memperkuat ekonomi keluarga.
Setiap anyaman yang lahir dari tangan para perempuan Tapin, bukanlah produk semata, tetapi bukti bahwa peluang bisa tumbuh dari tempat paling sederhana.
Merawat Identitas Lewat Purun
Karena sesungguhnya, purun bukan hanya tanaman liar, tetapi juga bagian dari nadi masyarakat Kalimantan Selatan.
Purun, atau mensiang yang tumbuh di tepian rawa, telah menjelma menjadi sumber kekuatan baru, yang menghubungkan tradisi, kreativitas, dan kemandirian ekonomi.

Pada akhirnya, ini adalah cerita tentang menjaga tradisi, memberdayakan perempuan, dan bagaimana komunitas kecil mampu menciptakan perubahan yang bermakna.
Dari rawa-rawa basah hingga pasar yang lebih luas, ada pesan sederhana: ketika tradisi dirawat dan diberi ruang untuk berkembang, ia akan selalu menemukan jalannya untuk hidup dan menghidupi.

